rss

Saturday, July 30, 2011

House of Samperna


HOUSE of Sampoerna merupakan salah satu objek wisata yang tak kalah menarik untuk dikunjungi. Bertempat di Surabaya, museum ini merupakan tempat dimana rokok milik Sampoerna, Dji Sam Soe, diproduksi pertama kali.

Sebelum dijadikan museum, bangunan ini digunakan sebagai tempat penampungan anak yatim piatu yang dikelola oleh warga Belanda, dan kemudian Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna, membelinya pada tahun 1862. Dalam perayaan ulang tahun Sampoerna yang ke-90 ditahun 2003, bangunan ini dipugar dan dibuka untuk umum.

Di dalam museum, pengunjung akan memperoleh informasi seputar sejarah keluarga Sampoerna, serta pengalaman unik yaitu membuat rokok Dji Sam Soe dengan tangan sendiri. Pengunjung akan bergabung bersama 3,500 wanita yang membuat rokok menggunakan peralatan tradisional. Biasanya mereka bekerja dengan kecepatan mencapai lebih dari 325 batang rokok per jam. Fasilitas yang bisa dijelajahi di Museum diantaranya:

Galeri Seni

Menampilkan hasil karya seni dari para seniman terbaik di Indonesia yang dipajang secara bergantian. Karya-karya seni tersebut ada yang bisa dipinjam, ada pula yang dijual. Tak hanya seniman proferional, tetapi seniman berbakat lainnya juga diberikan kesempatan untuk memasang karya mereka.

Toko Cinderamata

Berlokasi di lantai 2 museum. Menawarkan serangkaian pilihan cinderamata seperti batik, buku-buku, kerajinan tangan, pakaian dan suvenir khas Surabaya lainnya. Cinderamata yang ada disini tak hanya cocok untuk digunakan sebagai kebutuhan pribadi tapi juga cocok untuk dijadikan hadiah.

Cafe

dibangun menggunakan sentuhan dekorasi berseni dengan kreatifitas luar biasa yang digabungkan dengan unsur sejarah didalamnya. Untuk memuaskan pengunjung, Cafe menyediakan banyak pilihan dari citarasa makanan Barat dan Asia. Pada malam hari terdapat pertunjukan live music yang akan menemani jamuan makan malam pengunjung.

Meski bukan seorang perokok, museum ini tetap menarik untuk dikunjungi karena dari tempat ini bisa didapatkan pengetahuan seputar sejarah pembuatan rokok Indonesia yang berhasil mendulang kesuksesan. Informasi selengkapnya terkait museum bisa didapat melalui situs resminya

Monday, November 29, 2010

Kebiasan laki-laki setelah eh ih oh..

Menurut penilitian dr berbagai pakar sex di Indonesia ... Pesentase kebiasaan laki² setelah berhubungan intim sebagai berikut : 5% laki² yg habis melakukan hub. intim langsung mandi ... 5% laki² yg habis melakukan hub. intim langsung merokok dan bersantai² ... 10% laki² yg habis melakukan hub. intim langsung tertidur pulas ... 65% laki² yg habis melakukan hub. intim langsung kembali lagi kepelukan istrinya ... 15% laki² yg habis melakukan hub. intim langsung lupa bayar ... Demikian hasil penelitian dari para pakar sex di Indonesia ... Inggerisnya ") Why Cigarettes After Sex? What's the deal with people craving a smoke after they've just had sex? I've seen it in movies all my life but I can't get to the bottom of why. I could speculate that its some sort of final indulgence after a sweet session of sex or maybe some sort of cool down like in hot yoga but I dunno. Is there something physiological to it? Psychological? If it is a cherry on top of the cake of indulgence and pleasure, why aren't we eating ice cream sundaes and meatball heroes after sex? Is it too messy? Admittedly cigarettes do have sex appeal, they must since people continue to smoke even though we all know now what we know. Back then, as in James Dean, Coco Chanel, and Marilyn Monroe, we had no idea about how poisonous smoking was. So wouldn't the healthy option or the "green" option be to indulge in a slice of vegan cheesecake after sex? Maybe a plate of ravioli? Or a big glass of chocolate milk poured into a baked potato and covered in hot fudge and vanilla ice cream?

Sunday, October 24, 2010

Rokok Terbesar versi MURI


Rekoris : PT. Bentoel Prima
Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-63 tahun, Bentoel Group mengadakan kegiatan pembuatan Rokok terbesar dengan ukuran Panjang = 1,7 meter Diameter = 17 cm.
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 2008 di Malang

Kolektor Rokok dan Bungkus Rokok Terbanyak versi MURI


Rekoris : Drs. Bambang Setiawan

Jumlah koleksi Drs. Bambang Setiawan meliputi bungkus rokok maupun yang masih ada isinya sebanyak 3226 jenis, baik dalam maupun luar negeri.
Ayo siapa yang bisa memecahkan record ???????

Awak KA Bisnis Jualan Rokok


Sungguh ironis penerapan aturan di PT Kereta Api (KA). Di satu sisi, PT KA gencar menempel stiker larangan merokok di KA ekonomi, tapi penumpang KA bisnis/eksekutif justru bebas merokok.Kampanye larangan merokok Itu antara lain berlangsung di KA Gaya Baru Jurusan Jakarta-Surabaya belum lama ini. Upaya yang patut diacungi Jempol meski hasilnya belum tampak nyata benar karena masih banyak penumpang yang merokok. Caranya, ada yang terang-terangan di antara para penumpang atau yang sembunyi di antara sambungan gerbong.

Sejumlah penumpang pun sudah ikut ambil bagian mengikuti kampanye larangan merokok di tempat umum Itu. Selain tidak mengganggu penumpang lain karena racun yang disebarkan lewat asap rokok itu, kebersihan di gerbong yang hampir selalu dijejali penumpang itu dapat dikurangi. Semoga upaya PT KA membuahkan hasil yang bermanfaat bagi para pelanggannya.

Namun, di rangkaian kereta lain yang kelasnya lebih tinggi dari kelas ekonomi, yakni kelas bisnis. Senja Utama baik Jurusan Yogyakarta maupun Solo Balapan, masih banyak ditemui penumpang yang merokok di antara para penumpang.

Belakangan diketahui temyata awak kereta sendiri Juga menjual rokok kepada para penumpangnya. Sangat Ironis memang. Pada saat gencarnya PT KA menggelar kampanye larangan merokok di tempat umum, yakni di rangkaian kereta apl. Justru awak kereta sendiri yang melanggarnya.

Lalu sanksi apa yang akan diterapkan kepada perokok yang dengan santainya mengepulkan asap beracun yang membuat kesal penumpang lain Itu? Apalagi penjualnya yang tidak lain para pekerja atau awak kereta?

Mohon pimpinan PT KA melakukan peninjauan langsung ke semua rangkaian kereta secara diam-diam agar mengetahui kondisi yang sebenarnya.Ada sejumlah perempuan penumpang KA yang karena tidak tahan lagi, kemudian menegur penumpang yang merokok. Namun pria berambut cepak yang sedang merokok Itu dengan santainya Justru menawarkan agar Ibu rumah tangga itu Ikut merokok. Belakangan diketahui orang-orang berambut pendek Itu tidak membeli karcis. Istilahnya para penumpang "gelap" Itu arisan dengan mengumpulkan Rp 20.000-25.000/orang.

Vuwana Pelanggan KA bisnis. Jakarta

Mesin Penjual Rokok Unik di Jepang



Tidak sembarangan orang bisa membeli rokok, setidaknya di Jepang. Negara "Matahari Terbit" ini punya cara mencegah anak-anak membeli rokok, salah satu yang diusulkan adalah menggunakan sistem pengenalan wajah.

Mesin otomatis penjual rokok akan mengukur keriput, kerutan di pojok mata, dan kekendoran kulit untuk menilai apakah pembelinya sudah cukup umur.
Umur minimum untuk merokok di Jepang adalah 20 tahun dan hal ini dimanfaatkan sebuah perusahaan dengan mengembangkan sistem pengidentifikasi umur pembeli dengan cara mempelajari roman wajah.
Usaha itu dilakukan seiring akan disebarnya 570 ribu mesin penjual otomatis di seluruh Jepang. Undang-undang mensyaratkan mesin itu harus bisa menjamin bahwa pembelinya sudah cukup umur.
Pembeli diharuskan memandang ke suatu kamera digital yang terhubung dengan mesin tersebut. Sistem yang dibangun Fujitaka Co. akan membandingkan karakter roman wajah seperti keriput di sekeliling wajah, struktur tengkorak dan kekendoran kulit.
"Kami memiliki lebih dari 100 ribu data wajah orang," kata jurubicara Fujitaka Co., Hajime Yamamoto, sebagaimana diberitakan Reuters.
"Dengan sistem pengenalan wajah, asalkan punya uang kecil dan sudah cukup umur, anda bisa membeli rokok sebagaimana biasa. Taktik anak kecil meminjam kartu tanpa pengenal juga bisa diatasi," kata Yamamoto.
Kementerian keuangan Jepang telah memberi izin bagi "kartu pintar" yang dapat mengenali umur, atau "taspo", selain memberi izin untuk suatu sistem yang dapat membaca umur dari kartu SIM.
Kementerian itu belum mengizinkan metode identifikasi wajah karena belum yakin terhadap akurasinya.
Yamamoto mengatakan sistem itu bisa mengenali 90 persen pembeli dengan benar, sisanya yang 10 persen masuk "wilayah abu-abu", artinya, mereka adalah "anak-anak yang tampak dewasa atau orang dewasa berwajah kanak-kanak". Mesin akan meminta mereka memasukkan kartu SIM, untuk memastikan usia calon pembeli yang tergolong "abu-abu".
Perokok di bawah umur mengalami penurunan jumlah di Jepang, namun suatu survai kementerian Kesehatan pada tahun 2004 menunjukkan bahwa 13 persen siswa dan 4 persen siswi kelas III SMA setiap hari merokok. Usia mereka berkisar antara 17 dan 18 tahun.
kapan ya Indonesia ada jg??

Sunday, June 20, 2010

SPG rokok Djarum super HOT





Anda bisa lihat foto diatas ini ……… ?????
Mungkin anda heran kenapa iklan Rokok kaya begini kaga ada iklannya di TV atau majalah ……Karena ini memang adanya diluar negeri sana bro ….. !!! buat ngeiklanin aja harus berbusana minim karena emang para bule sana berpikiran rokok tidak membuat mereka lebih baik ………Kalau di dalam negeri djarum black terkenal dengan SPG-nya yang sexy dan bahenol, maka spg djarum black diluar negeri tak kalah lebih hot ………………….Mo lihat langsung ??? …. ke luar negeri nyo …….!!! he he he

Friday, May 28, 2010

PD Taru Martani 1918, Pabrik Cerutu Indonesia

Pabrik Cerutu Tertua yang Mulai Menggeliat

Pengantar
RedaksiPabrik cerutu PD Taru Martani yang kini berusia 84 tahun (1918-2002) memiliki sejarah penting bagi industri rokok di dalam negeri. Perusahaan rokok cerutu peninggalan Belanda yang berlokasi di Yogyakarta ini sempat menikmati masa kejayaan dan juga cukup lama kembang kempis dalam perjalanannya. Namun, di tengah berbagai badai yang menimpa, PD Taru Martani tetap berdiri, bahkan ada tanda-tanda mulai bangkit. Untuk itu, Sinar Harapan menuliskan lika-liku pabrik cerutu tertua tersebut dalam dua tulisan.

Taru berarti daun, sementara Martani berarti kehidupan. Jadi, Taru Martani adalah daun yang memberi kehidupan. Itulah nama yang diberikan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX untuk pabrik cerutu yang berlokasi di Baciro, Yogyakarta. Nama itu tak sia-sia. Meski tak luput dilanda krisis yang menerpa Indonesia dan pernah pula menghentikan ekspor ke mancanegara, dan yang hebat lagi dengan masih memakai alat-alat kuno peninggalan Belanda, toh pabrik cerutu ini masih eksis hingga kini dengan mempekerjakan sekitar 356 karyawan

Didirikan tahun 1918 dengan nama Firma (Fa) Negresco dengan 25 pekerja, pada awalnya produksi cerutu Taru Martani hanya untuk konsumsi orang-orang Belanda di Yogya -- yang tetap ingin menikmati cerutu – setelah bertahun-tahun kekurangan akibat Perang Dunia I. Namun dalam perkembangannya, cerutu ini juga dijual ke daerah Hindia Belanda dan ketika itu mendapat sambutan yang cukup baik.
Dan di tahun 1930, Fa Negresco melakukan ekspansi dengan menambah pekerja menjadi 1.000 orang yang sebagian besar untuk membuat cerutu buatan tangan. Tak lama kemudian, Jepang masuk Indonesia, dan ini menimbulkan perubahan besar. Nama Negresco berubah menjadi Jawa Tobacco Kojo. Pabrik inipun dilengkapi pula dengan mesin pembuat rokok sigaret hasil sitaan dari British American Tobacco (BAT) yang terletak 200 mil barat laut kota Cirebon.
Bermodalkan mesin hasil sitaan ini, dan melibatkan 2000 pekerja, pabrik ini membuat cerutu Momo Taro dan dua merek sigaret yakni Mizuo dan Koa. Kesemua ini untuk konsumsi Angkatan Bersenjata Kekaisaran Jepang.

Ambil Alih
Setelah PD II berakhir, HB IX mengambil inisiatif untuk mengambil alih dan mengganti nama perusahaan ini menjadi Taru Martani. Namun pada tahun 1949, Belanda kembali menguasai Yogya, dan pabrik pun jatuh ke tangan Negresco, pemilik lama. Meski begitu, pabrik tak bisa beroperasi karena terjadi kekacauan politik. Dan pada tahun 1951, BAT memboyong kembali mesin-mesinnya ke Cirebon. Akibatnya, pabrik di Yogya dibiarkan kosong begitu saja.Selang setahun kemudian, pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Bank Indonesia membeli perusahaan ini dan namanya kembali menjadi PT Taru Martani. Ada tiga merek cerutu yang diproduksi, yakni Mundi Victor, Senator dan Elomercio. Sementara untuk kertas sigaret adalah Chaveaux Blancs. Dan pada tahun 1957, menambah lagi produknya berupa tembakau shag dan dua merek rokok kretek, yakni Roro Mendut dan Roro Jonggrang.
Nama PT Taru Martani kembali berubah menjadi Perusahaan Negara Perindustrian Rakyat Budjana Jasa. Ini terjadi ketika pemerintah menetapkan policy untuk merasionalisasi semua perusahaan Belanda. Dan ketika ada pergantian rezim Soekarno ke rezim Soeharto, perusahaan ini mengalami kembang kempis dan hanya bisa mempekerjakan sekitar 100 orang.
Tahun 1972, HB IX -- kala itu menjabat wakil presiden -- kembali mengambil peranan. Perusahaan ini lagi-lagi menjadi milik pemerintah DIY. Nama pun berubah lagi menjadi PT Taru Martani Baru. ”Kala itu Sri Sultan berpendapat cerutu ekspor haruslah menjadi usaha utama dari perusahaan ini, sebab akan lebih banyak menyerap tenaga kerja daripada jika membuat jenis produk tembakau lainnya,” ungkap Direktur Utama Perusahaan Daerah Taru Martani Bimo N Wartono.Tak lama kemudian, masuklah perusahaan tembakau Belanda, Douwe Egberts dengan menyertakan modal, tenaga ahli serta akses ke pasaran ekspor. Dalam era ini, selain meneruskan pembuatan Mundi Victor dan Senator, juga menambah lagi tiga merek, yakni Adipati, Ramayana dan Panter. Dan antara tahun 1973–1978, perusahaan ini juga mulai memproduksi kertas sigaret Chaveaux Blancs dan Counryman. Juga memperkenalkan empat merek tembakau, yakni Van Nelle, Countryman, White Ox dan Prahu. Van Nelle adalah merek lisensi perusahaan Belanda yang namanya Douwe Egberts Van Nelle Tabak MV.”Semua produk tembakau shag difokuskan untuk pasaran dalam negeri,” kata Bimo.Ada perubahan besar di era tahun 1980-an. Para konsumen mulai menyukai cerutu kecil yang rasanya lebih ringan. Dan, menurut Johanes, Corporate Communications PD Taru Martani, perusahaan menanggapi permintaan ini dengan memproduksi cerutu jenis Cigarillos dengan merk Borobudur. Tak hanya itu, Taru Martani juga mulai membuat Amphora, tembakau pipa pada tahun 1984.Masa kejayaan PT Taru Martani Baru kembali merosot, seiring dengan Douwe Egberts menarik diri. Dan ini jelas mengganggu kelancaran finansial dan kegiatan ekspor. ”Bahkan waktu itu boleh dikatakan kami hanya memproduksi tembakau shag saja, karena produksi cerutu dalam jumlah kecil saja hanya untuk kebutuhan pasar lokal yang juga masih sangat kecil. Tapi syukur tak ada PHK. Yang ada hanya peremajaan seiring banyak karyawan yang sudah masa pensiun,” tutur Jan, panggilan akrab Johanes.Mundurnya Douwe Egberts ini menyebabkan status Taru Martani berubah dari PT menjadi PD hingga kini. Sejalan dengan penerapan UU Otonomi Daerah, dalam proyeksi ke depan PD Taru Martani direncanakan untuk privatisasi menjadi PT.Dan dalam upaya membangun image, Taru Martani ingin menonjolkan unsur ketuaan, yakni dengan menggunakan ”TARU MARTANI 1918.” ”Ini bagian dari strategi kami yang menggunakan ikatan emosional dengan Belanda. Kita tahu, di Belanda itu kebutuhan cerutu mencapai 100 juta batang pertahun,” ungkap Bimo.Di era kepemimpinan Bimo yang saat ini tergolong masih muda – umur 40 tahun, PD Taru Martani berniat bisa bangkit mencapai kejayaan seperti masa lalu. Bila pada tahun 2001 omsetnya mencapai Rp 13 miliar, dan tahun 2002 ini mencapai Rp 15 miliar, tahun 2003 omset direncanakan bisa mencapai Rp. 20 miliar (sebanyak 70% dihasilkan dari ekspor dan 30% lagi dari pasar dalam negeri).Adapun cerutu yang dihasilkan Taru Martani saat ini, yang diekspor, dalam berbagai jenis dan merek. yang dikelompokkan dalam cerutu natural taste, flavor taste dan mild taste. Merek-merek seperti : Island Collection, Celestino Vega, Key West dan sebagainya cukup dikenal di pasar Amerika. Sedangkan untuk yang pasar domestik, di antaranya Adipati, Ramayana, Panter, Senator, Mundi Victor, dan Borobudur. Untuk tembakau shag yang merupakan konsumsi dalam negeri meliputi Van Nelle, Countryman dan Drum.

Kanibal
Untuk mendapat omset yang lebih besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya, menurut Bimo, pihaknya tak akan meningkatkan jumlah produksinya, namun lebih menekankan pada mutu. Apalagi bila dilihat dari mesin yang digunakan, merupakan peninggalan Belanda sejak tahun 1952. Walaupun mesin tua dan telah kanibal pula, namun dari 6 mesin itu bisa dihasilkan (dalam kapasitas terpasang) 20 juta batang cerutu/tahun.”Namun kami tidak akan memforsir, tapi hanya 75 persen saja dari kapasitas mesin. Hal itu sesuai dengan umur mesin. Mesin itu sejak tahun 52. Ini suatu prestasi yang bisa dibanggakan,” kata Bimo.Guna menjaga kelangsungan produktivitas dari mesin-mesin tua tersebut, terutama pengadaan suku cadang, pihak Taru Martani di samping telah bekerja sama dengan dengan ATMI Solo, juga akan merintis kerja sama dengan Sekolah Teknik Menengah yang ada di Yogyakarta. ”Kami tengah memikirkan perintisan untuk pengadaan suku cadang mesin ini,” ungkap Bimo.
(SH/yuyuk sugarman/su herdjoko)
Copyright © Sinar Harapan 2002

AVE TOBACCOS & CIGARS JAKARTA


WELCOME TO THE WORLD OF INDONESIAN TOBACCOS & CIGARS

Distributor Jakarta Indonesian Cowe Tobaccos & Cigars
Order, by phone:(021) 7142 2979, anytime
Order, by e-mail : avecerutu@gmail.com,
please confirm Payment, by BCA, kcp Depok, 421-241-1098, a.n. Fransisca Kristiyanti
Ongkos kirim, rp. 20.000 /kg, jakarta only
Waroeng, @ Jl. Utama no. 15, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan 12640
Open hours: Monday- Friday: 17:00 - 23:00 WIB, Saturday-Sunday: 11:00 - 23:00 WIB
http://avecigars.multiply.com/journal
Tobaccos, Cigar and accesories.

SmokeLessCounter

Put your quit smoking efforts on "auto-pilot" and take the guesswork and uncertainty out of quitting smoking.
This handy gadget puts you in control of your smoking habit, helping you to quit smoking gradually.
Have you tried to quit smoking cold-turkey, only to find the cravings just too overpowering? You probably weren't prepared to deal with the withdrawal symptoms, and felt like your head would explode if you didn't get a quick fix.
Cold-turkey works for some people, but the fact is many smokers just can't stay disciplined enough to remain smoke-free. Well, now you're in luck! A sensible alternative to the cold-turkey method is now available.

Put Your "Quit" on Auto-Pilot
What if you had a simple way to cut back on your cigarettes, gradually weaning yourself from your addiction to nicotine? Wouldn't that make quitting easier? If you could somehow keep yourself on a simple schedule that slowly reduced your smoking over a period of time, then you could deal with withdrawal, right? Maintaining a smoking schedule is difficult. You need a tool that can put you on auto-pilot.
The SmokeLessCounter was designed for you! Take back control of your habit and quit!
The SmokeLessCounter works by gradually eliminating both the physical AND the psychological urge to smoke. No more expensive Drugs or Patches that do not eliminate the HABIT of smoking! The SmokeLessCounter works using the principals of behavior modification and gradual nicotine withdrawal.

With the SmokeLessCounter, you choose the time you need to quit smoking – up to 180 days. Simply enter some information about your smoking habits, and the SmokeLessCounter creates a program specifically for you.
Just enter these five numbers into the SmokeLessCounter:
Enter the current time of day Enter the number of cigarettes you currently smoke each day. Enter the number of days until you wish to be a non-smoker. Enter the cost per cigarette. Press the Smoke button and you are on your way to a smoke-free life! Now the SmokeLessCounter will begin counting down the minutes until your next cigarette. When it's time to smoke again, it will emit a low “beep.” According to the number of days YOU have entered, the SmokeLessCounter will gradually (and automatically) increase the time between cigarettes. Day by day, week by week, you will smoke less and less until your quit day arrives! You are smoking on auto-pilot. You are quitting on auto-pilot!
The key is that you don't have to think about how much you are smoking and if you are succeeding. You just follow the SmokeLessCounter, and smoke when it beeps. The SmokeLessCounter keeps track of how much you are smoking, and when your next cigarette is due. Follow the program and YOU WILL REACH THE FINAL DAY WHEN YOU NEVER SMOKE AGAIN!
You are actually smoking ON PURPOSEand that gives you GREAT POWER over your addiction.
The SmokeLessCounter also has a “HOLD” function for those smokers who just want to cut back on the amount of cigarettes they smoke each day but do not want to quit.
To help keep you motivated, the SmokeLessCounter even tells you how much money you're saving.
SmokeLessCounter is about the size of a credit card so you can take it everywhere. All this, at a cost usually less than a carton of cigarettes!
How the SmokeLess Counter Creates Your Own Quitting Plan
The SmokeLessCounter assumes you are awake for 17 hours each day. So, to make this easy, let's say you currently smoke 17 cigarettes per day. In this example, you smoke one cigarette every 60 minutes. You would enter "17" in the setup of the SmokeLessCounter. Now the unit will begin beeping once every hour, to let you know it is time to smoke.
So far, you haven't altered your smoking in ways that might make you miserable. But you have altered your future because now you are part of a system. For the moment you are smoking the same number of cigarettes that you always do, but you are smoking them according the your SmokeLessCounter program instead of in response to urges. You will be working to recondition your mind and to break your habit during this time.
You decide how quickly or slowly to cut back. This is YOUR plan, at your pace.
Next, you told the SmokeLessCounter how quickly or slowly you wanted to reduce your nicotine intake. Again, for the sake of simplicity, let's say you told the unit that you wanted to be a non-smoker in 17 days. So, on day two, you'll be smoking 16 cigarettes per day. Now, instead of smoking every 60 minutes, you'll smoke every 63.75 minutes. It's a small, almost imperceptible change, yet it is taking you down a road that has zero cigarettes at the end of the road.
You begin to destroy the "caving into your cravings." You take back control of your life by smoking according to a schedule. Smoking will stop being a reaction to your needed "fix." In fact, you may find that smoking becomes a chore!
As each day passes, the SmokeLessCounter simply increases the time between each smoke. It dutifully counts down the minutes until your next smoke and beeps when it's time to light up. Your body will become less exposed and addicted to nicotine, helping you to stop smoking without feeling the mind-bending withdrawal symptoms so many smokers experience.
Weaning Works
One clinical study conducted in 1995 by the M.D. Anderson Cancer Center utilized a similar program of increasing the time interval between cigarettes, called "scheduled reduction." The study concluded that smokers who followed a scheduled reduction program before quitting were more than twice as likely to be non-smokers after one year, over those who had quit smoking cold-turkey.
Convenient and Affordable
The SmokeLessCounter is the size of a credit card, and just 3/16" thick, so it fits easily in your pocket or purse. It goes with you without being obvious to anyone else.
It's also affordable. At only $19.95, the SmokeLessCounter is a bargain smoking cessation aid. You'll save many times that when you quit wasting money on cigarettes. And it comes with our standard 90 day money back guarantee, so you have nothing to lose except your addiction!
It is a fact that most smokers would prefer to be non-smokers. Almost every smoker has thought about quitting. Many have tried to stop but have failed because they did not break the HABIT of smoking! The SmokeLessCounter is made for these people because it gradually eliminates the HABIT of smoking – both physically and psychologically.
Order yours today and start counting down your habit!
SmokeLessCounter is only $19.95

Foredi & TDM

Foredi & TDM
Buat pasangan suami istri, menambah harmonis rumah tangga, direkomendasikan oleh Dr. Boyke dan terdaftar di badan POM. Klik gambar

Ice Watch Rubber Flag

Ice Watch Rubber Flag
Jam dengan motif bendera, Spanyol, Jerman, Argentina, Brazil, Portugal, Italia, Belanda, Inggris, Perancis, Indonesia.. hanya 130rb. Klik gambar untuk info

Kacamata Vision Therapy

Kacamata Vision Therapy
Rp 50.000,- untuk terapi rabun jauh, klik gambar untuk info
 

Quit advise

Quit now !